Berita Economy & Industry

Menanti Gebrakan Industri Otomotif di Kuartal Kedua 2022

JAKARTA— Kuartal pertama tahun ini merupakan angin segar bagi ekonomi nasional khususnya industri otomotif. Insentif pajak penjualan, vaksinasi yang gencar, pameran otomotif akbar yang sukses  digelar dengan hasil yang positif hingga mudik lebaran yang cukup emosional dan terbesar dalam sejarah Indonesia menjadi indikasi bergairahnya kembali industri otomotif nasional setelah bertahan akibat pandemi dalam dua tahun terakhir.

Kini, saatnya melanjutkan sejumlah pekerjaan rumah (PR) yang tersendat akibat pandemi dapat segera diwujudkan. Seperti ekspor kendaraan dalam bentuk jadi (completely built up, CBU) ke sejumlah negara, pengembangan kendaraan ramah lingkungan, hingga pembukaan pabrik perakitan di dalam negeri menjadi kabar gembira yang dinantikan. Kelangkaan chip  dan peperangan kawasan Eropa timur yang memicu ketidakpastian ekonomi global, bahkan kemungkinan terjadinya kondisi yang lebih buruk menjadi perhatian serius banyak negara. Namun hal itu bukan menjadi halangan serius bagi industri otomotif nasional untuk terus bangkit.

Pada kuartal pertama 2022, pasar otomotif nasional mencatatkan penjualan ritel lebih dari 238 ribu unit, atau naik sebesar 33,6 persen dibandingkan periode yang sama kuartal pertama tahun 2021 lalu sekitar 178 ribu unit. Capaian ini merupakan indikasi penjualan otomotif semakin mendekati ke level normal seperti sebelum pandemi Covid-19. Pabrikan seperti Daihatsu yang mengalami penjualan ritel di Kuartal I 2022 berada di posisi nomor dua penjualan otomotif nasional dengan raihan sekitar 46 ribu unit. 

Terkiat dengan masalah ekspor kendaraan, Toyota kuartal pertama 2022 berhasil mengapalkan 10 model CBU sebanyak 73 ribu unit ke empat benua. Capaian ini meningkat 48 persen dibanding tahun lalu yang hanya 49.000 unit. Pemerintah Indonesia sendiri berambisi mematok target 1 juta ekspor kendaraan roda empat dalam bentuk CBU tahun 2025. Sebagai salah satu industri prioritas, pemerintah sudah memberikan berbagai fasilitas dan infrastruktur pendukung, seperti Pelabuhan Patimban guna menambah volume ekspor. Industri otomotif Indonesia saat ini memiliki kapasitas produksi mencapai 2,5 juta per tahun dengan 1,5 juta SDM potensial yang berperan dari hulu hingga hilir rantai industri otomotif. 

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) sendiri memproyeksikan penjualan mobil baru di 2022 sebanyak 900 ribu unit. Jumlah tersebut mendekati penjualan tahun 2019 yang mencapai kisaran sejuta unit. Pabrikan lain juga menuai keuntungan atas bangkitnya industri otomotif nasional. Merujuk pada data penjualan retail GAIKINDO tahun 2021, kendaraan penumpang dan niaga ringan seperti Mitsubishi Motors di Indonesia mencatat angka penjualan sebanyak 104.407 unit (Januari 2021 hingga Desember 2021). Itu terdiri dari penjualan model kendaraan penumpang sebanyak 68.152 unit dan kendaraan niaga ringan sebanyak 36.225 unit. 

Hal itu bagi agen pemegang merek (APM) menjadi modal untuk  terus mempertahankan eksistensi dan memacu untuk meramaikan kompetisi pasar otomotif baik dalam sisi produk, layanan penjualan, dan purna jual terbaik kepada konsumen. Angka penjualan Mitsubishi sendiri meningkat hingga 90,6 persen dibandingkan dengan tahun 2020.

Pameran GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) the Series tahun ini juga  akan kembali berlangsung di empat kota strategis Indonesia sepanjang Agustus hingga November 2022 mendatang. Kondisi tersebut jelas berbeda dibanding tahun 2021, GIIAS The Series yang  hanya dapat terselenggara di dua kota, Tangerang dan Surabaya. GIIAS kali ini akan menghadirkan  lebih dari 20 merek kendaraan roda empat, yang di antaranya beberapa merek baru dan juga merek dari industri otomotif yang kembali akan memasuki pasar Indonesia.

Era mobil listrik juga menjadi pekerjaan wajib bagi APM untuk terus memperkenalkan produk terbaru mereka yang ramah lingkungan. Setelah sejumlah pabrikan Jepang dan Eropa memperkenalkan produk kendaraan berbasis listrik ataupun hybrid mereka, kini pabrikan asal Cina dan Korea tidak mau kalah. Mereka berlomba memperkenalkan produk elektrifikasi ke pasar lokal. Ini sejalan dengan ambisi pemerintah yang ingin mengembangkan produk kendaraan listrik di Tanah Air termasuk infrastrukturnya. Tentunya proses sosialisasi ini masih perlu waktu bagi masyarakat di Tanah Air karena terkait dengan banyak hal. Khususnya infrastruktur dan nilai ekonomis kendaraan listrik yang sampai kini belum sesuai dengan daya beli mayoritas masyarakat. Jadi bagaimana kisahnya di episode kedua tahun ini, kita lihat saja di penghujung tahun nanti. (*)