Berita Economy & Industry

Opini, Strategi Menyikapi Dinamika Pasar Otomotif

BISNIS— Menjalankan bisnis dalam sektor otomotif, tentu akan menghadapi dinamika. Industri otomotif merupakan ranah yang senantiasa berubah dan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti teknologi, kebijakan pemerintah, tren konsumen, dan kondisi ekonomi. Sebagai contoh, menurut data yang dikutip dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) total penjualan mobil listrik secara mencapai 69.763 unit sepanjang 2023, naik 237,31 persen dibanding 2022.

Ini menunjukkan bahwa kendaraan listrik menjadi tren di tahun 2023 lalu dan masih akan terus berkembang pada tahun 2024 ini. Untuk menghadapi perkembangan dalam bisnis otomotif, perusahaan harus mampu mengantisipasi perubahan pasar dan menyesuaikan strategi mereka secara tepat. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk mengatasi pasar dalam bisnis otomotif. 

Langkah awal yang harus dilakukan adalah selalu melakukan analisis tren industri otomotif itu, seperti teknologi baru, otonom, dan konektivitas, inovasi produk, dan perubahan kebijakan. Tak kalah penting adalah melakukan riset pasar untuk memahami preferensi konsumen, kebutuhan, dan layanan after sales. Penerapan kolaborasi antar ekosistem menjadi sangat penting untuk keberlangsungan bisnis. Kerja sama tersebut untuk memperkuat posisi pasar dan mendapatkan akses ke sumber daya tambahan.

Sementara itu, pengembangan sumberdaya manusia menjadi kunci untuk menjaga ketangguhan dari perusahaan tersebut. Berinvestasi dalam pengembangan bakat dan pelatihan untuk menjaga keahlian tim, akan semakin memperkuat bisnis di era yang terus berubah, membutuhkan keterampilan yang sesuai dengan perkembangan zaman. Mengantisipasi pasar industri otomotif selama tahun elektoral pemilu bisa melibatkan pemahaman tentang dampak politik dan ekonomi yang mungkin terjadi selama masa kampanye dan setelahnya.

Ketidakpastian ekonomi tentu akan ada dan harus bisa diantisipasi dengan langkah langkah tersebut di atas. Selain itu, ada tantangan lain yaitu kebijakan pemerintah terkait industri otomotif, seperti insentif pajak, regulasi lingkungan, atau subsidi untuk kendaraan ramah lingkungan. Masa pemilu juga dapat mempengaruhi nilai tukar mata uang, karena industri otomotif seringkali bergantung pada impor dan ekspor, sehingga fluktuasi mata uang dapat mempengaruhi biaya produksi dan harga jual.

Pemilihan umum pada 14 Februari 2024 bisa juga mempengaruhi sentimen konsumen. Konsumen akan lebih berpikir dua kali dalam menentukan barang atau layanan jasa otomotif mana yang akan dibeli. Sebagai langkah antisipasi dan inovasi bisnis, penerapan kolaborasi antar ekosistem sangat penting untuk keberlangsungan bisnis. Kolaborasi ini dapat terdiri dari banyak hal seperti pengembangan produk bersama, riset market, co-hosting event, kerja sama penggunaan infrastruktur maupun platform, hingga pada level terbesar adalah pembentukan ekosistem jangka panjang atas bisnis.

Dalam kolaborasi tersebut tentu tentu ada beberapa hal yang harus diperhatikan, seperti pelaksanaan proyek bersama jangka waktu tertentu, aspek-aspek kecil namun dapat berdampak pada keberlanjutan, misalkan tentang pembahasan atas insentif yang perlu menjadi sebuah kajian bisnis yang diaplikasikan untuk tetap menambah spirit dalam kolaborasi.

Selain itu, suatu kolaborasi bisnis membutuhkan kepercayaan dan transparansi di antara para mitra serta perlu adanya adaptasi dalam perubahan yang terjadi dalam masing masing perusahaan. Perubahan iklim bisnis yang fluktuatif memerlukan fleksibilitas, keterbukaan pikiran, dan kemauan untuk belajar baik dari keberhasilan maupun kegagalan. Ini akhirnya akan mendorong model bisnis yang jelas, fokus pada inovasi, dan komitmen terhadap perbaikan berkelanjutan pada masing-masing pihak.

Terakhir, perlu adanya perlindungan Intellectual Property (IP) agar dapat menjadi kolaborasi yang baik dan tidak akan muncul perselisihan di kemudian hari. Masing masing perusahaan perlu memiliki perjanjian yang jelas untuk melindungi kekayaan intelektual mereka masing masing, sekaligus memungkinkan terjadinya pertukaran ide dan teknologi dalam kerja sama bisnis.

Melihat ulasan di atas, terlihat bahwa kolaborasi ini sangat menguntungkan bagi setiap perusahaan. Sebagai contoh, kerjasama antara Mercedes-Benz dan AMG, kolaborasi fenomenal ini masih berlanjut hingga saat ini. Hasil kolaborasi ini menciptakan mobil-mobil yang sangat sukses di pasaran, seperti Mercedes-Benz 300 SE pada tahun 1965 dan Coupe mewah 500 SEC AMG pada tahun 1982.

Tak hanya di luar negeri, kerja sama kolaborasi dari dalam negeri juga pernah ada.Toyota dan Daihatsu misalnya telah lama mengembangkan produk bersama seperti duet Avanza-Xenia, Calya-Sigra, Agya-Ayla. Sedangkan aliansi Nissan-Mitsubishi-Renault di Tanah Air telah bekerja sama dengan memproduksi mesin dan komponen bersama untuk Xpander dan Livina. Dalam internal perusahaan yang saya pimpin, kami juga melakukan kolaborasi dengan internal ekosistem di bawah holding company kami. Kedepan, ekosistem yang kuat akan menjadi weapon untuk menghadapi kondisi ekonomi dan pasar yang dinamis. (Opini: Ardy Alam – Bisnis.com)